
Oleh Sunaryo, S.Pd.
Selamatan 40 harinya Karmin sudah lebih dari sepekan ini berlalu. Namun, aura mistis masih menyelimuti di segala penjuru kampung itu. Warga masih enggan keluar rumah sampai larut. Mereka merasa takut kalau-kalau nanti di tengah jalan mereka dicegat oleh arwah Karmin yang konon sering bergentayangan. Mereka tidak mau berurusan dengan arwah Karmin yang katanya selalu meminta pertanggungjawaban dari seluruh warga kampung itu. Tidak hanya di jalan-jalan, arwah Karmin menurut penuturan warga juga sering mengetuk pintu rumah warga yang sudah terkunci rapat. Dan, karena itulah, warga juga enggan membukakan pintu rumahnya setelah jam dinding menunjukkan angka sembilan. Mereka lebih memilih tidur, atau bahkan jika belum bisa tidur, setidaknya mereka akan berpura-pura tidur. Mereka tidak mau menerima tamu setelah pukul sembilan malam bahkan meskipun tamu itu manusia biasa sekalipun. Pernah beberapa kali aku mencoba bertamu ke beberapa warga setelah pukul sembilan malam. Namun, jangankan dibukakan pintunya, menjawab ketukan pintu dariku pun tidak pernah muncul. Bahkan walaupun aku telah beberapa kali mengucap salam pun mereka tidak ada yang menjawabnya. Kampung ini benar-benar seperti kampung mati setelah jarum jam telah melewati angka sembilan pada malam hari. Dalam hati aku hanya bisa bertanya-tanya mengapa mereka begitu takutnya pada arwah Karmin. Apa hebatnya arwah Karmin… Sehebat malaikat pencabut nyawa kah… Atau sehebat yang menciptakan alam semesta ini… Sehebat yang memberi kehidupan inikah arwah Karmin…. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu berputar-putar di otakku. Dan aku lagi-lagi tak bisa menerimanya dengan akal sehatku.
Setiap hari gunjingan-gunjingan tentang arwah Karmin selalu saja muncul bagaikan jamur yang tumbuh di musim penghujan. Setiap hari ada saja orang yang bercerita kalau semalam arwah Karmin telah mengetuk rumahnya.
“Semalam Karmin mengetuk rumahku,” kata Saidi
“Terus gimana… Apa dia masih mencari-cari uangnya?”, tanya Supri.
“Nggak.. dia hanya mengetuk pintu, tapi nggak kubukakan. Dia terus mengetuk-ngetuk pintu rumahku. Lama sekali. Mungkin sekitar satu jam dia baru berhenti mengetuknya”, jawab Saidi.
“Kalau tahu seperti ini, seharusnya kemarin kita tidak mau menerima uang dari dia,” sesal Supri.
“Lha terus gimana lagi Kang… Itu kan sudah menjadi kebiasaan di kampung ini. Siapa saja yang mencalonkan diri menjadi anggota dewan harus kasih uang ke kita jika ingin mendapatkan dukungan kita. Itu sudah lumrah kang”, terang Saidi.
“Itulah masalahnya, Dek Saidi. Kang Karmin udah kasih uang ke kita, tapi warga malah memilih Kang Sarmin. Mungkin itulah yang membuat arwah Kang Karmin marah dan meminta uangnya dikembalikan”, jelas Supri dengan rasa penyesalan.
“Ya terang aja to Kang. Kang Sarmin kan kasih uangnya lebih banyak daripada Kang Karmin. Bahkan yang dikasih Kang Sarmin itu dua kali lipatnya uang yang dikasih Kang Karmin. Jadi terang aja warga lebih memilih Kang Sarmin. Saat ini warga kan nggak melihat siapa orangnya dan apa partainya untuk menentukan pilihannya. Mereka kan melihat siapa yang kasih uang paling banyak, ya dia yang dipilih. Jadi ya wajar kan kalau warga memilih Kang Sarmin”. Beber Saidi.
Aku termenung mendengar percakapan Saidi dan Supri dari balik dinding warung kopi sore itu. Sebuah teka-teki yang selama ini berputar di otakku akhirnya terjawab, namun menyisakan rasa getir yang mendalam. Ketakutan warga kampung ternyata bukan hanya sekadar takut pada sosok hantu, melainkan perwujudan dari rasa bersalah dan dosa kolektif yang mereka tanggung sendiri.
Politik uang telah menjadi hal lumrah yang mematikan hati nurani mereka. Karmin, yang malang, mengakhiri hidup atau meninggal dalam kekecewaan mendalam setelah dikhianati oleh tetangga-tetangganya sendiri demi lembaran uang yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dari Sarmin.
“Jadi, karena itu kalian membiarkan kampung ini mati setiap jam sembilan malam?” tanyaku tiba-tiba, melangkah keluar dari bayang-bayang warung dan menghampiri meja mereka.
Saidi dan Supri tersentak. Wajah mereka memucat, terkejut melihat kehadiranku yang ternyata menguping pembicaraan sensitif tersebut.
“Eh, kamu… Sejak kapan di situ?” gagap Supri, mencoba menutupi kegugupannya dengan membetulkan posisi duduknya.
“Cukup lama untuk mengerti bahwa ketukan pintu setiap malam itu adalah tagihan atas janji yang kalian khianati,” jawabku dingin. “Kalian takut pada Karmin, atau sebenarnya kalian takut pada cerminan kerakusan kalian sendiri?”
Saidi menunduk dalam-dalam, sementara Supri menghela napas berat. Penyesalan yang mereka diskusikan tadi kini tampak jelas menggantung di wajah mereka.
“Kamu tidak mengerti,” bisik Saidi dengan suara serak. “Malam ini… malam Jumat Kliwon. Ini adalah hari ke-50 sejak kematiannya. Kabarnya, malam ini arwah Karmin tidak akan sekadar mengetuk pintu. Dia akan mendatangi rumah siapa saja yang menerima uangnya paling banyak untuk menagih haknya secara langsung.”
Aku terkekeh sinis, meski ada sedikit desiran aneh di tengkukku. “Aku tetap tidak percaya hantu bisa menagih uang kompensasi politik. Malam ini, aku akan membuktikannya. Aku akan berjaga di luar setelah jam sembilan.”
“Jangan gila!” seru Supri tertahan, matanya membelalak panik. “Pulanglah sebelum jam sembilan kalau kamu masih sayang nyawamu!”
Malam pun tiba. Jarum jam di ruang tamuku perlahan merayap mendekati angka sembilan. Suasana kampung mendadak sunyi senyap, bahkan suara jangkrik pun seolah enggan terdengar. Dari balik jendela, aku melihat lampu-lampu teras rumah tetangga satu per satu dipadamkan. Kampung ini benar-benar menjelma menjadi kampung mati.
Teng… Teng… Teng…
Jam dinding berdentang sembilan kali. Tepat pada dentangan terakhir, angin kencang tiba-tiba berembus, membuat jendelaku bergetar hebat. Aku menarik napas dalam-dalam, mengambil sebatang senter, lalu berjalan keluar dan duduk di kursi bambu yang ada di teras rumahku. Aku ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Satu jam berlalu dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada apa-apa. Aku mulai tersenyum menang, berpikir bahwa ketakutan warga hanyalah histeria massa akibat rasa bersalah.
Namun, tepat pada pukul sepuluh lewat sedikit, terdengar suara langkah kaki yang berat dan terseret dari ujung lorong kampung.
Sret… Sret… Sret…
Aku menyipitkan mata, mencoba menembus kegelapan malam. Samar-samar, sesosok bayangan tinggi kurus berjalan mendekat. Bayangan itu berhenti tepat di depan rumah Saidi yang berada di seberang jalanku.
Tok… Tok… Tok…
Tangan bayangan itu bergerak memukul pintu kayu rumah Saidi. Ketukannya terdengar pelan, namun bergaung konstan di tengah malam yang sepi.
“Saidi… kembalikan…” sebuah suara parau, seperti orang yang tercekik, terdengar lirih namun jelas meluncur dari sosok itu. “Kembalikan suaraku… atau kembalikan uangku…”
Jantungku berdegup kencang. Senter di tanganku bergetar. Penasaran mengalahkan rasa takutku, aku mengarahkan lampu senter tepat ke arah sosok yang berdiri di depan pintu Saidi.
Klik!
Cahaya senter membedah kegelapan. Dan detik itu juga, darahku rasanya membeku. Sosok itu berbalik perlahan menatapku. Wajahnya pucat pasi dengan mata yang melotot kosong, persis seperti foto Karmin yang terpampang di baliho kampanyenya beberapa bulan lalu, namun kali ini tanpa senyuman. Di tangannya, ia menggenggam seikat lembaran uang yang telah melepuh dan berlumuran tanah.
Cahaya senterku bergetar hebat, menyorot langsung ke arah mata kosong sosok yang menyerupai Karmin itu. Lidahku mendadak kelu, namun akal sehatku menolak untuk lumpuh oleh rasa takut. Jika ini benar-benar arwah Karmin yang menuntut keadilan, atau jika ini hanyalah rekayasa, aku harus memastikannya sendiri.
Aku menurunkan senter sedikit agar tidak langsung membutakan matanya, lalu memberanikan diri melangkah turun dari teras rumah. Setiap langkahku terasa begitu berat di atas tanah kampung yang dingin.
“Kang Karmin…?” suaraku bergetar, memecah kesunyian malam yang mencekam.
Mendengar namanya dipanggil, sosok itu berhenti mengetuk pintu rumah Saidi. Ia memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap ke arahku. Langkah kakinya yang terseret kini beralih menuju pembatas jalan, mendekatiku. Bau tanah basah dan aroma busuk yang samar mulai menusuk hidungku.
“Kau… tidak menerima uangku…” bisik suara parau itu, terdengar seperti embusan angin di liang kubur.
“Benar, Kang. Aku tidak mengambil sepeser pun uang darimu, juga tidak dari Sarmin,” jawabku, mencoba menstabilkan napas agar terdengar berani. “Tapi mereka yang di dalam rumah itu… mereka ketakutan. Seluruh kampung ini mati setiap malam karena dirimu. Apa yang sebenarnya kau inginkan, Kang? Uang itu sudah tidak ada gunanya lagi di alammu sekarang!”
Sosok Karmin berhenti tepat dua meter di hadapanku. Di bawah temaram lampu jalan dan sisa sorot senterku, aku bisa melihat dengan jelas seikat uang di tangannya. Itu adalah lembaran uang pecahan seratus ribu rupiah lama yang tampak kotor, robek, dan sebagian dipenuhi ulat.
Ia mengangkat tangannya yang pucat, menyodorkan ikat uang itu ke dadaku.
“Bukan uang ini yang kubawa ke kubur…” desisnya, mata kosongnya seolah menembus langsung ke dalam sukmaku. “Aku tidak butuh uangnya. Aku butuh nama baikku. Mereka mencapku sebagai orang kalah yang mati membawa dendam. Katakan pada mereka… ambil kembali uang haram ini, dan bersihkan namaku di masjid kampung saat fajar tiba. Jika tidak…”
Kalimatnya menggantung. Tiba-tiba, hembusan angin yang sangat dingin menerpa wajahku hingga aku terpejam sesaat.
Saat aku membuka mata, sosok Karmin telah lenyap tak berbekas. Namun, ada sesuatu yang terasa berat di telapak tangan kananku. Ketika aku melihat ke bawah, senterku menjatuhkan cahayanya pada seikat uang lusuh berlumuran tanah yang kini nyata berada di genggamanku. Di seberang jalan, tirai rumah Saidi bergerak sedikit, menandakan bahwa ia menyaksikan interaksi gila ini dari balik jendela.
Rasa dingin dari ikatan uang berlumuran tanah itu seolah menyengat syaraf-syaraf di tanganku. Aku tidak bisa menunggu sampai besok pagi. Menyimpan uang kutukan ini di rumahku sama saja dengan mengundang petaka. Sambil menggenggam erat ikat uang tersebut, aku berbalik dan setengah berlari menyeberangi jalan menuju rumah Saidi.
Brak! Brak! Brak!
“Saidi! Keluar, Di! Buka pintunya!” teriakku sambil menggedor pintu kayunya dengan keras. Suara gedoran itu memecah keheningan malam jumat kliwon yang mencekam.
Tidak ada jawaban. Namun, aku tahu Saidi dan istrinya ada di dalam, gemetaran di balik selimut mereka. Aku tahu dia melihatku bicara dengan arwah Karmin tadi dari balik tirai.
“Saidi! Aku tahu kamu belum tidur! Buka pintunya atau aku tinggalkan uang milik Karmin ini di depan terasmu!” ancamku setengah mendesak.
Mendengar kata ‘uang Karmin’, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari dalam rumah. Kunci slot pintu diputar dengan gemetar. Klek. Pintu terbuka hanya beberapa sentimeter, memperlihatkan wajah Saidi yang pucat pasi dan berkeringat dingin.
“Kamu gila ya?! Sengaja mau memanggil celaka ke rumahku?!” bisik Saidi dengan nada marah sekaligus ketakutan yang amat sangat.
Tanpa banyak bicara, aku mendorong pintu itu dengan pundakku dan menyodorkan tangan kananku ke hadapan wajahnya. Di bawah temaram lampu ruang tamunya, seikat uang seratus ribu yang kotor dan berbau tanah kuburan itu terpampang nyata. Saidi langsung mundur dua langkah, jatuh terduduk di atas ubin rumahnya sambil menutup mulut karena syok.
“Ini uangmu, Di. Arwah Kang Karmin sendiri yang menitipkannya padaku untuk dikembalikan kepadamu,” kataku dengan suara yang sengaja kutekankan. “Dia tidak butuh uang ini di alam sana. Dia minta namanyanya dibersihkan di masjid kampung besok subuh. Kalau tidak, dia akan datang lagi, dan kali ini bukan cuma ketukan pintu yang akan kamu terima.”
Saidi menatap uang itu dengan mata membelalak, lalu menatapku dengan air mata penyesalan yang mulai berlinang. “T-tapi… bagaimana aku harus mengembalikannya? Uang yang dia beri dulu sudah habis kupakai untuk bayar utang…”
Melihat Saidi yang terkulai lemas di lantai, aku langsung menarik kerah bajunya agar dia berdiri. “Kita tidak punya waktu untuk meratap, Di! Uang fisik ini sudah kembali dari kubur, artinya perkara ini bukan lagi soal nominal, tapi soal pengakuan dosa kalian. Ayo ikut aku sekarang, kita cari Supri!”
Saidi, dengan tubuh yang masih gemetar hebat, terpaksa mengangguk. Dengan langkah terburu-buru di bawah cengkeraman malam yang semakin dingin, kami berdua menembus kegelapan kampung menuju rumah Supri yang terletak beberapa ratus meter di dekat langgar. Tanganku tetap menggenggam erat ikat uang berbau tanah itu, menjadikannya sebagai bukti nyata yang tidak bisa dibantah.
Brak! Brak! Brak!
Gedoran keras kami di pintu rumah Supri segera memecah kesunyian. Kali ini, Saidi sendiri yang berteriak memanggil temannya itu. Ketika Supri akhirnya membuka pintu dengan wajah kesal sekaligus ketakutan, ia langsung terbungkam begitu melihat ikat uang kotor yang aku sodorkan tepat di depan matanya.
Malam itu juga, efek domino ketakutan berubah menjadi gelombang pengakuan. Supri yang panik tidak ingin menanggung kutukan itu sendirian. Bersama Saidi, ia mulai mengetuk rumah demi rumah warga yang dulunya menerima uang sogokan dari Karmin. Anehnya, malam yang biasanya membuat warga pura-pura tidur kini justru mencairkan ketakutan mereka menjadi kepasrahan. Satu per satu warga keluar rumah, berkumpul di pelataran masjid dengan wajah pucat dan penyesalan yang mendalam.
Tepat saat azan subuh berkumandang, seluruh warga kampung telah berkumpul di dalam masjid. Di hadapan imam masjid dan di atas mimbar, Saidi dan Supri, mewakili seluruh warga, meletakkan seikat uang mistis itu dan dengan suara bergetar mengakui segala dosa politik uang yang telah mereka lakukan kepada almarhum Karmin. Mereka memohon maaf secara terbuka dan berjanji akan membersihkan nama Karmin dari cap “mayat yang mendendam”.
Begitu ikrar tobat dan doa bersama selesai dipanjatkan, sebuah keajaiban mistis terjadi di depan mata kami. Ikat uang berlumuran tanah yang tergeletak di depan mimbar tiba-tiba perlahan berubah menjadi abu hitam, lalu ditiup angin subuh hingga lenyap tak berbekas melalui celah jendela masjid. Bersamaan dengan itu, aura pekat dan mencekam yang selama puluhan hari menyelimuti kampung seketika sirna, digantikan oleh kehangatan sinar matahari pagi yang mulai terbit. Kampung kami akhirnya terbebas dari belenggu arwah Karmin, menyisakan sebuah pelajaran mahal tentang harga sebuah harga diri dan kejujuran yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang.
Matahari pagi yang terbit setelah malam Jumat Kliwon itu tidak hanya membawa kehangatan bagi warga kampung, tetapi juga menandai awal dari runtuhnya kejayaan Kang Sarmin. Pria yang sempat jemawa setelah melenggang mulus ke kursi dewan legislatif berkat politik uang dua kali lipat itu, ternyata tidak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak.
Misteri hancurnya karier dan hidup Kang Sarmin terkuak tak lama setelah seluruh warga kampung bertobat di masjid. Entah karena kekuatan mistis dari abu uang Karmin yang terbang ditiup angin subuh, atau memang sudah jalannya takdir untuk membongkar kebusukan, karma instan langsung mendatangi rumah megahnya di pusat kota kabupaten.
Tepat tiga hari setelah kejadian malam itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama tim kepolisian menggerebek rumah mewah Kang Sarmin atas dugaan kasus suap mega-proyek kedewanan yang baru ia jalani beberapa bulan. Tidak hanya itu, penyelidikan mendalam juga membongkar asal-usul dana kampanye raksasa miliknya yang ternyata bersumber dari pinjaman lintah darat ilegal dan penggelapan dana bansos.
Seluruh aset kekayaannya, mulai dari rumah bergaya Eropa, mobil-mobil mewah, hingga tanah-tanah yang ia beli dari hasil memeras rakyat, disita habis oleh negara.
Namun, hukuman fisik itu belum seberapa dibanding siksaan batin yang harus ia tanggung. Menurut penuturan para penjaga tahanan di lembaga pemasyarakatan, Kang Sarmin kerap berteriak histeris setiap kali jam dinding lapas menunjukkan angka sembilan malam. Ia selalu meringkuk di sudut sel yang gelap sambil menutup telinganya rapat-rapat.
“Jangan ketuk pintunya! Ambil saja uangnya! Ambil kembali suaraku!” teriaknya berulang kali hingga fajar tiba, membuat para narapidana lain ketakutan.
Warga kampung yang kini hidup tenang tanpa teror menyadari satu hal: arwah Karmin tidak pernah benar-benar pergi untuk mendendam kepada mereka yang telah bertobat. Arwah itu hanya berpindah tempat, menetap di dalam dada Kang Sarmin sebagai wujud rasa bersalah yang abadi, mengetuk pintu hati nuraninya yang telah lama mati setiap malam hingga akhir hayatnya di balik jeruji besi.