Beranda / Cerpen / LUKISAN TAMAN SURGA

LUKISAN TAMAN SURGA

Karya Sunaryo, S.Pd.

Sayang… aku tidak bisa memberikan apa-apa kepada kamu. Hanya sebuah lukisan yang belum sempurna ini. Lukisan yang sengaja aku buat untuk kamu agar kamu selalu ingat tentang cita-cita kita berdua. Cita-cita yang menurut sebagian orang masih terlalu jauh untuk diwujudkan. Namun, bagi kita berdua, cita-cita itu adalah tujuan akhir cinta kita. Ya… kita telah berjanji  bahwa kita akan saling mencintai, saling menjaga, dan saling memberikan kasih sayang selama kita hidup, bahkan setelah napas kita tidak berhembus pun, kita akan tetap berdoa agar kita dipersatukan di Taman Surga. Oleh karena itulah, Sayang… aku kirimkan sebuah lukisan untukmu. Lukisan Taman Surga. Yaa… Lukisan Taman Surga yang mungkin akan mampu menggambarkan betapa aku ingin memilikimu dan mencintaimu baik dalam hidupku maupun matiku…. Aku kirimkan sebuah lukisan yang mungkin belum sempurna karena ternyata kekasihku sudah tidak sabar menantikan aku pulang dari perjalanan yang cukup jauh. Perjalanan ke Taman Surga… Aku memang harus melihat langsung bagaimana keadaan sebuah taman yang menjadi impian setiap orang itu. Maka aku memutuskan untuk pergi ke sana, Sayang. Aku sangat berharap kamu mau menerima lukisan ini dan mengabadikannya dalam perjalanan hidup kita di dunia. Oh iya, kamu juga jangan heran kalau background yang ada dalam lukisan tersebut terdapat gambar hati karena memang saat membawa pulang lukisan itu aku masukkan ke dalam hati.

Rina sayang… aku akan menceritakan bagaimana aku mampu melukiskan keindahan Taman Surga itu. Aku akan menceritakan apa saja yang aku alami selama perjalanan ke Taman Surga, mulai dari aku berangkat sampai aku pulang kembali. Waktu itu, Minggu malam… aku masih ingat betul ketika itu aku duduk di depan laptop kesayanganku. Waktu itu aku sedang menyelesaikan pekerjaan kantor, tetapi entah mengapa pikiranku selalu saja tidak bisa fokus. Hatiku selalu merindukan kamu.  Dan kamu tahu, sayang?? Waktu itu aku sangat berharap kamu ada di sampingku. Mendampingiku menyelesaikan pekerjaanku. Aku sangat berharap kamu datang malam itu. Dan ternyata, malam itu harapanku tidak sia-sia, Sayang. Rupanya Tuhan selalu saja mengabulkan apa yang tergerak dalam hatiku. Malam itu juga ada orang yang mengetuk pintu rumahku. Aku segera bangkit untuk membukakan pintu sambil berharap itu adalah kamu. Gadis yang sejak sore hari aku rindukan. Dan untuk kesekian kalinya, Tuhan selalu mengabulkan harapanku. Malam itu kamu yang datang mengetuk pintu rumahku, Sayang. Namun, malam itu kamu datang tidak bersama-sama dengan senyumanmu. Kamu datang dengan raut muka yang cemberut. Dan tanpa basa-basi, kamu melontarkan sebuah kalimat. Yaa… hanya sebuah kalimat, namun sudah mampu membuat hatiku hancur… Sebuah kalimat yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan akan terucap oleh bibir manismu itu, Sayang… Waktu itu kamu minta hubungan kita berakhir. Aku bingung. Aku kaget. Aku tidak percaya. Aku sedih. Aku lunglai. Tubuhku seolah sudah tidak bertulang lagi. Aku nggak tahu lagi apa yang akan aku lakukan. Waktu itu kamu benar-benar telah menjelma menjadi malaikat pencabut nyawa. Atau mungkin juga, itu adalah malaikat pencabut nyawa yang menjelma menjadi dirimu, Sayang. Aku bingung. Aku tidak bisa membedakan yang mana yang benar. Maka malam itu aku menganggap bahwa itu bukan dirimu. Itu adalah malaikat pencabut nyawa yang datang menjelma dirimu. Dan aku benar-benar telah pasrah.

Kamu tahu apa yang selanjutnya terjadi, Sayang?? Malam itu dia mengajak aku keluar dari rumah. Dia mengajak aku berjalan menyusuri lorong-lorong. Yaa… kami berdua berjalan kaki menyusuri lorong-lorong. Semuanya sepi. Kami tidak menjumpai seorang manusia pun. Jangankan manusia, seekor binatang pun tidak kami jumpai. Aku juga sempat bertanya, dia mau mengajak aku ke mana?? Tapi tidak ada jawaban sama sekali. Waktu itu orang yang mirip dengan kamu itu benar-benar membisu. Tidak mau aku ajak bicara sepatah kata pun. Maka kami hanya bisa berjalan seperti patung yang digerakkan oleh batu sembrani. Hanya bergerak tanpa ada suara. Suasananya betul-betul mencekam. Waktu itu aku berjalan di depan dan seorang perempuan yang mirip denganmu berjalan di belakangku.

Setelah jauh kami menyusuri lorong-lorong, aku menoleh ke belakang. Tapi ternyata perempuan yang mirip kamu tadi sudah nggak ada, Sayang. Aku mencari ke sana kemari namun tidak aku temui. Aku ingin kembali pulang ke rumah, tetapi jalan di belakangku yang semula terang benderang mendadak gelap. Lorong yang aku lalui tadi seolah hilang ditelan bumi. Akhirnya, mau tidak mau aku harus melanjutkan perjalanan menyusuri lorong itu sendirian. Sepi…. Senyap… Tak ada kehidupan… Dalam hatiku aku sempat bertanya, aku ini berada di mana?? Namun memori di otakku seperti tidak mengenalinya. Memori di otakku seakan mengatakan bahwa tempat ini belum ter-scan.

Aku terus menyusuri lorong. Rasa letih mulai menyerangku. Tenggorokanku pun sudah mulai mengering. Sementara keringat mengucur di sekujur tubuhku. Namun tiba-tiba, Subhanallah…. kamu pasti tidak percaya dengan apa yang aku lihat, Rina sayang. Kamu tahu aku sampai di mana?? Yaa… di depanku, tidak lebih dari 20 meter, telah terhampar sebuah taman dengan bunga warna-warni. Kupu-kupu berterbangan di atas bunga tersebut. Dan di salah satu sudut, air pancuran mengalirkan air yang begitu jernih. Indah sekali…. Waktu itu aku langsung ingat kamu, Sayang. Lalu aku ingin mengabadikan taman itu dengan sebuah jepretan kamera yang ada di handphone yang aku bawa. Aku ingin kamu juga melihat apa yang aku lihat. Aku ingin suatu saat kita berdua dapat menempati taman itu. Aku bergegas mendekat dan mencoba masuk ke dalam. Namun, tiba-tiba dua orang lelaki tinggi besar telah lebih dulu menarik lenganku. Aku tersentak. Dua orang lelaki itu muncul seperti setan. Aku tidak tahu dari mana asalnya mereka berdua. Tiba-tiba saja dia sudah berada di samping kanan dan kiriku. Rupanya mereka adalah penjaga taman itu. Aku merontah tapi tidak berdaya. Mereka menyuruh aku pulang, tapi aku tidak mau. Aku ingin melihat taman itu dari dekat. Aku ingin memasuki taman itu. Aku ingin mengambil gambar taman itu dengan kamera handphoneku yang kemudian rencananya akan aku tunjukkan kepada kamu agar kamu mengetahui indahnya sebuah taman yang suatu saat nanti harus menjadi milik kita, Sayang…  Namun, sialnya, kedua orang itu ternyata mencium gelagatku. Dan tanpa berbicara, dia langsung merampas handphoneku. Aku memohon agar mereka mau mengembalikannya, tetapi entah ke mana larinya handphoneku tadi. Tiba-tiba saja handphone itu telah lenyap dari tangan mereka. Tapi aku tidak putus asa. Aku tetap memohon kepada mereka, minimal aku harus bisa masuk ke taman itu. Lama aku mencoba untuk merayu, bahkan aku sampai bersimpuh di hadapan mereka. Dan ternyata usahaku tidak sia-sia. Mereka mengizinkan aku masuk, namun aku tidak diperbolehkan membawa peralatan apa pun, termasuk kertas dan tinta. Aku sangat bersyukur. Setidaknya aku bisa melihat-lihat keadaan taman. Dan, ternyata setelah masuk, keindahan yang aku saksikan di luar taman tadi mungkin hanya 10% dari keindahan yang sesungguhnya dari taman tersebut. Keindahannya luar biasa. Bagaimana ikan yang berwarni-warni berenang di kolam di bawah pancuran dengan air yang begitu jernih sejernih kaca. Bahkan kalau tidak diperhatikan dengan saksama, kolam itu seolah nggak ada airnya. Jadi, seolah-olah ikan-ikan itu terbang dan bukan berenang. Sungguh luar biasa….

Aku terus menjelajahi taman itu. Rupanya di dalam taman ini sudah ada penghuninya. Di beberapa sudut tertentu aku menyaksikan sepasang remaja sedang bermesraan. Mereka terlihat sangat bahagia. Bahkan, mereka seolah tidak menghiraukan keberadaanku. Aku dianggap tidak ada. Atau bahkan mungkin benar, dia tidak melihat aku. Aku tidak tahu…

Kakiku terus melangkah menyusuri taman itu.  Tapi ternyata taman itu  begitu luas. Bahkan mungkin 7 hari 7 malam aku berjalan menyusuri taman itu,  belum tentu bisa menjangkau setiap sudutnya. Sejenak aku berhenti. Memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa membawa gambar taman ini. Aku terus berpikir… tapi semuanya buntu… aku ingin melukiskannya di atas daun, tapi tintanya dari mana??? Terus nanti membawa pulangnya bagaimana?? Semuanya benar-benar buntu… Akhirnya, aku memutuskan suatu hal yang mungkin tidak kamu sangka, Sayang… kamu tahu, Sayang, apa yang aku lakukan??? Aku mengambil ranting sebatang pohon yang kulitnya agak keras. Kalau di dunia kita hampir sama dengan pohon bambu, sayang. Aku ambil kulitnya. Aku gunakan untuk menyayat kulit yang ada di dadaku. Kemudian kulit yang ada di dada ini aku ambil. Aku pisahkan dari tubuhku. Dan kamu tahu tinta yang aku gunakan tinta apa, sayang??? Yaa… darah yang mengucur dari bekas sayatan kulitku tadi aku gunakan sebagai tintanya untuk melukiskan keindahan taman itu. Semuanya hanya buat kamu, Sayang. Bukan untuk orang lain. Maka, aku lukis keindahan taman itu di atas kanvas yang berasal dari kulit pembungkus hati dan jantungku. Aku lukis dengan hati-hati. Aku nggak mau ada satu hal pun yang terlewatkan. Semua harus masuk dalam lukisan itu. Tapi…. sungguh sangat disayangkan, belum sampai setengahnya aku menyelesaikan lukisan ini atau bahkan mungkin baru seperempatnya aku melukis, tiba-tiba aku mendengar suara kamu, Sayang… Suara kamu yang memanggil-manggil namaku. Suara kamu yang kadang terdengar seperti mengumpatku. Kadang terdengar seperti mengharap aku kembali. Kadang terdengar seperti menangis. Kadang terdengar seperti orang putus asa. Aku tidak kuat mendengar itu semua, Sayang. Maka, aku putuskan untuk mengakhiri lukisanku. Yaa… Lukisan Taman Surga… kemudian lukisan itu aku lipat. Aku masukkan ke dalam hati. Ke dalam hati yang paling dalam agar tidak diketahui oleh penjaga taman tadi. Lalu aku bergegas pulang. Aku ucapkan terima kasih kepada penjaga taman tadi. Dan mereka berdua hanya mengangguk. Aku berjalan melangkah pulang. Menyusuri lorong yang aku lewati tadi yang rupanya sudah terang kembali. Namun, kali ini beda dengan saat berangkat tadi. Kalau saat berangkat tadi aku tidak menjumpai seorang pun, kali ini aku bisa menjumpai beberapa orang. Dan kamu tahu sayang apa yang terjadi??? Ternyata, semua orang perempuan yang aku jumpai menjelma dirimu. Aku tidak tahu mengapa bisa seperti itu. Setiap orang yang aku jumpai adalah dirimu. Senyumnya mirip dengan senyumanmu. Cara jalannya mirip dengan cara jalanmu. Cara berbicaranya juga mirip dengan bicaramu. Bahkan model rambutnya mirip dengan model rambut kamu. Dan semua berkeinginan untuk mendapatkan lukisan yang telah aku simpan di hati ini. Aku bingung, Sayang. Maka, saat itu juga aku putuskan untuk mencongkel kedua mataku. Yaa… kedua mataku aku ambil. Aku masukkan ke dalam kantung plastik kemudian aku taruh di saku bajuku. Akhirnya aku melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mata hati. Aku yakin, mata hatiku tidak akan pernah menipuku. Mata hatikulah yang akan menuntun aku untuk bertemu denganmu. Dan mata hatikulah yang akan menunjukkan siapa Rina yang sesungguhnya karena Lukisan Taman Surga ini memang hanya untuk Rina kekasihku. Bukan yang lain.

Dalam perjalanan pulang, setelah aku berjalan dengan mata hati, di sepanjang jalan aku mendengar suara orang-orang sedang membaca tahlil. Aku tidak ingat lagi ini hari apa?? Tapi yang jelas setelah sampai di depan rumah, aku melihat begitu banyak orang dengan wajah sedih sedang mengelilingi sesosok tubuh yang sedang tertidur pulas dengan memakai selimut warna putih. Aku mencoba mendekat. Ternyata tubuh itu adalah tubuhku. Aku tersentak kaget. Tanpa pikir panjang, aku pun tidur di atas tubuh yang tertidur pulas itu. Lalu perlahan-lahan tubuh itu aku ajak bangun dan akhirnya terduduk. Orang-orang gempar. Banyak yang berlarian. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Yang aku tahu saat itu kamu tidak di sampingku…. Aku sedih…. Aku mencarimu untuk memberikan lukisan ini karena lukisan ini sengaja aku buat khusus buat kamu. Yaa… hanya buat kamu Sayangku, Kekasihku, Cintaku.

Saksi Mata yang Buta

“Mati suri!”

Suara pekikan itu samar-samar menembus daun telingaku, disusul oleh derap langkah kaki yang pontang-panting saling menjauh. Ruang tamu rumahku yang semula dipadati oleh wewangian kapur barus dan lantunan ayat-ayat tahlil mendadak sunyi. Orang-orang menganggapku sebagai mayat yang bangkit dari liang kubur. Mereka tidak tahu, bahwa aku baru saja menempuh perjalanan miliaran kilometer melintasi batas waktu demi membawa pulang sebuah mahakarya.

Aku mencoba menggerakkan leherku. Kaku. Kain kafan yang sempat membungkus tubuhku perlahan melonggar saat aku memaksakan diri untuk berdiri. Aku tidak bisa melihat kekacauan di sekelilingku. Kelopak mataku kosong, hanya menyisakan rongga gelap setelah sepasang bola mata itu sengaja kucongkel di jalan pulang agar tidak lagi tertipu oleh bayangan semu yang menyerupai dirimu.

Namun, mata hatiku bekerja dengan begitu tajam. Di dalam rongga dadaku, di balik tulang rusuk yang terasa nyeri luar biasa karena sisa sayatan, aku merasakan getaran yang sangat kukenal. Lukisan yang kugores di atas kanvas kulit pembungkus jantungku itu berdenyut kuat. Darahku yang mengering di atasnya seolah kembali hangat. Lukisan itu berbisik, memandu langkah kaki telanjangku untuk keluar menembus pintu rumah.

“Rina… di mana kamu, Sayang?” bisikku. Suaraku parau, kering bagai tanah tandus yang merindukan pancuran air Taman Surga.

Mata hatiku menuntun langkahku menyusuri halaman rumah, melewati sisa-sisa kursi pelayat yang terguling. Di ujung jalan, di bawah temaram lampu gantung yang bergoyang ditiup angin malam, aku merasakan kehadiranmu. Getaran batinmu begitu kacau. Ada rasa bersalah, ada ketakutan, dan ada penyesalan yang mendalam yang memancar dari tubuhmu.

Rupanya, setelah melontarkan kalimat putus malam itu, jiwamu terguncang mendengar kabar bahwa aku mendadak tak bernyawa di depan laptopku. Kamu datang kembali bukan sebagai kekasih yang cemberut, melainkan sebagai seorang pelayat yang dihantui rasa berdosa.

“Mas… Mas Aryo?” suara bibir manismu bergetar hebat. Aku mendengar deru napasmu yang memburu. Kamu berdiri membeku beberapa meter di hadapanku, menatap ngeri ke arah sosokku yang berbalut kain putih dengan wajah tanpa mata.

Aku tersenyum. Sebuah senyuman paling tulus yang bisa kuberikan. Aku meraba saku bajuku, memastikan kantung plastik berisi sepasang bola mataku masih ada di sana. Aku tidak membutuhkannya lagi untuk melihatmu, karena seluruh wujudmu telah abadi di dalam hatiku.

“Jangan takut, Rina. Ini aku. Aku pulang untuk memenuhi janjiku,” kataku lembut, melangkah mendekat setapak demi setapak.

“Mas… apa yang terjadi dengan matamu? Kenapa dadamu berdarah?” tangismu pecah. Kamu tidak lagi berlari ketakutan seperti orang-orang di dalam rumah. Rasa cintamu yang tersisa mengalahkan rasa ngeri melihat wujudku yang hancur.

Aku memegang dadaku sendiri. Dengan perlahan, aku merobek sisa kain kafan dan kancing kemejaku, memperlihatkan luka sayatan menganga yang membentuk sebuah pola. Di balik lapisan kulit yang terbuka itu, tersimpan lipatan kanvas daging yang telah terlukis indah—sebuah gambaran samar tentang kolam sejernih kaca, ikan-ikan yang terbang, dan sepasang remaja yang bermesraan di bawah pancuran air surga.

“Aku tidak bisa membawa kamera handphone-ku, Rina. Penjaga taman itu merampasnya. Maka, aku merobek pembungkus jantungku sendiri, menggunakan darahku sebagai tintanya, agar aku bisa memperlihatkan kepadamu tempat tinggal kita kelak,” bisikku lirih.

Aku meraih tanganmu yang gemetar dan sedingin es. Kutuntun jemari manismu untuk menyentuh langsung permukaan luka di dadaku, membiarkan jarimu merasakan tekstur Lukisan Taman Surga yang belum sempurna itu.

Saat jemarimu menyentuh darah sisa lukisan itu, sebuah keajaiban terjadi. Melalui mata hatiku, aku bisa merasakan memori di otakmu mendadak ter-scan. Kamu tidak lagi menangis. Suara isakmu mereda, digantikan oleh desah napas takjub. Melalui sentuhan itu, keindahan 10% Taman Surga yang kusaksikan mengalir langsung ke dalam pikiranmu. Kamu melihat kolam itu. Kamu melihat bunga warna-warni itu. Dan kamu akhirnya tahu, bahwa sepasang remaja yang sedang bermesraan di sudut taman surga yang kulihat kemarin, sebenarnya adalah kita berdua di masa depan.

“Lukisan ini memang belum selesai, Rina,” kataku sembari menggenggam erat tangannya. “Karena aku butuh kamu untuk menyempurnakannya bersamaku. Maukah kamu menjaga lukisan ini di dalam hatimu, sampai tiba saatnya kita benar-benar pulang bersama ke taman itu?”

Di bawah saksi malam yang senyap, Rina mengangguk perlahan. Ia memeluk tubuhku yang tak lagi sempurna, mengabaikan bau amis darah dan kain kafan. Malam itu, di koridor dunia yang fana, Lukisan Taman Surga tidak lagi tersimpan di dalam kanvas yang mati, melainkan telah berpindah dan hidup abadi di dalam detak jantung kami berdua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *