Oleh Sunaryo, S.Pd.

Hari itu masih teramat pagi. Matahari pun belum berani menampakkan Wajahnya. Namun pagi itu Pak Usman telah sampai di kantor tempat dia bekerja. Yah … di pagi yang masih terlalu awal itu pak Usman sudah sampai di halaman sekolah. Sebagai seorang guru yang profesional, Pak Usman hampir tidak pernah terlambat masuk kelas. Apalagi hari ini adalah hari Rabu. Hari yang pada jam pertama dia harus masuk ke kelas XI IPA3. Kelas yang bagi dia merupakan kelas yang istimewa. Kelas yang di dalamnya terdapat seorang siswa yang mampu menggetarkan hatinya. Kelas yang membuat dia harus mampu membedakan dirinya sebagai seorang ‘Bapak’ yang harus membimbing, membina, menjaga, sekaligus memotivasi siswanya untuk maju dengan dirinya sebagai seorang lelaki normal yang menginginkan seorang pendamping hidup. Yah… Pak Usman adalah salah satu dari lima guru yang masih bujang di SMA Negeri 17 Lamongan.
Pagi itu adalah pagi yang cukup indah dan sekaligus merisaukan bagi Pak Usman. Di satu sisi pagi ini adalah pagi yang rencananya Pak Usman akan menuliskan sebait puisi buat Fina. Sebait puisi yang merupakan balasan dari puisi yang telah ditulis oleh Fina. Puisi yang di bagian akhirnya tertulis inisial CC.. Dan, memang itulah nama pena dari Fina (Firyal Nailah Azzahrah). Tidak ada yang tahu mengapa Fina memakai nama itu, tapi bukan sebuah rahasia lagi bahwa CC. adalah nama Penanya. Di setiap karyanya dia selalu mencantumkan nama itu. Namun, di lain sisi, pagi ini adalah pagi yang cukup indah karena pagi ini adalah pagi yang mampu melipatgandakan semangatnya untuk menyampaikan materi pelajaran. Pagi ini Pak Usman akan masuk ke kelas XI IPA3. Dan, itu artinya dia akan bertemu dan bisa melihat Fina dari dekat meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa setiap dia masuk ke kelas tersebut perasaannya selalu berada dalam persimpangan. Dua pilihan perasaan yang teramat sulit ditentukan ketika dia berdiri di depan kelas. Dia tidak kuasa menentang statusnya sebagai orang tua yang harus ‘ngemong’ , membimbing, melindungi, mengarahkan dan sekaligus memberi motivasi siswanya untuk berprestasi. Selain itu, dia juga tidak mampu membohongi dirinya bahwa dia adalah seorang lelaki normal yang memiliki hak untuk menyukai lawan jenisnya tanpa terkecuali siswanya sendiri, FIRYAL NAILAH AZZAHRAH (FINA). Ya…. gadis pendiam namun selalu aktif dalam setiap kegiatan itu secara diam-diam telah mampu menyusup dalam lembar kehidupan Pak Usman. Tidak hanya cantik, tetapi gadis yang berperawakan tinggi dan berkulit bersih ini juga memiliki kepandaian yang cukup bisa dibanggakan. Tidak ada seorang guru pun yang meragukan itu karena dia adalah runner up Yak Yuk Kabupaten Lamongan tahun lalu. Namanya selalu menjadi buah bibir di ruang guru. Ini juga yang dulu membuat Pak Usman penasaran ingin mengetahui gadis yang bernama FIRYAL NAILAH AZZAHRAH.
Setelah tahun ajaran baru, kebetulan Pak Usman mengajar di kelas yang FIRYAL NAILAH AZZAHRAH berada di dalamnya, yaitu kelas XI IPA3. Dan, ketika kali pertama masuk ke kelas tersebut, yang dicari pertama kali adalah FIRYAL NAILAH AZZAHRAH (FINA). Tidak bisa dipungkiri, gadis inilah yang membuat Pak Usman merasa ada sesuatu yang berbeda di hatinya sejak pertama dia melihatnya. Dan, sejak pertama bertemu itulah Pak Usman selalu ingin mengetahui lebih dalam tentang diri Fina hingga suatu ketika Pak Usman yang guru bahasa Indonesia itu memberi tugas kepada siswa kelas XI IPA3 untuk membuat sebuah puisi. Pak Usman memerintahkan siswanya untuk mengungkapkan isi hati lewat sebuah puisi. Para siswa diminta untuk menuliskan apa yang mereka pikirkan saat ini melalui sebuah puisi. Setelah semua tugas terkumpul, di rumah, Pak Usman membaca hasil karya siswa-siswanya satu per satu. Ketika dia membaca puisi yang di bagian bawahnya tertulis nama CC. Dia tertegun. Dia ingat bahwa CC adalah nama pena dari FIRYAL NAILAH AZZAHRAH (Fina). Lalu dia membacanya lebih dalam
“Pintu”
Bagiku, hati bagaikan sebuah rumah.
Yang berpintu, agar kita punya jalan untuk keluar dan memasukinya.
Sejak dulu aku bilang, pintu hatiku senantiasa kututup rapat,
tapi tak berarti tak bisa dibuka, bukan?
bahkan kau pun telah mencoba dan nyaris berhasil membukanya.
Sebenarnya aku tidak trauma untuk membuka pintu hatiku kembali.
Bahkan, sangat mudah aku membukanya jikalau kau tahu caranya.
Tak perlu banyak syarat, cukup ketuklah ia dengan sopan dan dengan ketulusan.
Tak perlu banyak perjuangan, hanya sepenuh kesetiaan dan kesabaran
Karena maklumilah, aku pernah, dan sering tertipu dalam membuka pintu.
Seringkali orang datang mengetuk pintuku, dan saat kubuka mereka justru kabur meninggalkan aku yang telah
terlanjur ramah menyambut kedatangannya.
Wajarlah, bila kemudian timbul kecewa, bahkan saat adegan itu terjadi berulang-ulang terhadap “pintu” milikku.
Maka, bersabarlah, karena aku senantiasa berusaha untuk bisa membuka pintuku lebar-lebar.
Aku tak pernah jahat, buktinya aku tak pernah mengusirmu,kan?
Itu juga salah satu tanda bahwa aku mau berusaha membuka kembali pintuku untukmu
Membuka grendel dan gembok yang dulu kukancing rapat-rapat.
Sekali lagi, hanya ketlatenan dan kesabaran yang aku butuhkan.
Karena rasa trauma itu susah untuk hilang.
Tapi aku percaya, susah itu bukan berarti tidak bisa,kan?
dan aku berharap kau mengerti.
Lebih dari itu, aku berharap, sangaaatt,,,sangaattt,,,dan sangat,,
bahwa kaulah yang benar membawa kunci duplikat untuk membuka pintuku, dan penuh kesabaran betah berdiam selamanya di sana.
Sebab, jika tidak, atau jika kau sudah tak sabar dan meninggalkanku,
maka aku tak yakin, apakah pintuku masih bisa dibuka lagi?
Karena jika benar kau menyerah kali ini, gembokku pasti akan terus terkunci dan berkarat,
Sehingga pintuku, akan selalu tertutup, dan tak akan pernah terbuka lagi.
Dia mencoba memahami kata-kata yang ditulis oleh Fina dalam setiap barisnya. Lalu dia menemukan sebuah makna yang teramat dalam. Dia melihat bahwa Fina telah benar-benar mencurahkan isi hatinya lewat puisi tersebut. Lalu, Pak Usman menyimpulkan secara sepihak bahwa puisi tersebut benar-benar telah ditujukan padanya. Hatinya tidak tenang. Dia ingin segera memberikan balasan puisi tersebut. Lalu dia mencoba menyusun kata-kata dalam selembar kertas. Setelah selesai kertas tersebut kemudian dilipat dan dimasukkan ke saku bajunya yang besuk di hari Rabu akan dipakai untuk mengajar.
Hari Rabu pun tiba, pagi sekali Pak Usman sudah ada di ruang guru. Dia duduk di kursinya. Pikirannya tak tenang. Hatinya gelisah menanti pertemuannya dengan Fina. Perlahan dia bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan menyusuri lorong-lorong kelas. Semuanya masih sepi. Dia terus melangkahkan kakinya menyusuri lorong kelas. Kelas X1, X2, X3,. Melewati kamar mandi X6, X7, X8,. Berhenti sejenak di depan sanggar teater. Mengamati taman yang ada di depan sanggar. Dia melanjutkan berjalan. Melewati XI IPA1, XI IPA2, dan akhirnya sampai di XI IPA3. Dia tertegun. Semuanya sepi. Tak ada suara. Tak ada orang. Tak ada bangku. Tak ada meja guru. Tak ada kursi. Hanya ada satu cahaya putih. Dia mencoba masuk ingin mengetahui apa yang ada di dalamnya. Dia terus melangkah….. melangkah…. dan terus melangkah….. hingga jauh…. jauh ….. dan jauh ….. meninggalkan semuanya. Meninggalkan ruang guru. Meninggalkan lorong-lorong kelas. Meninggalkan sanggar teater. Meninggalkan kelas XI IPA3. Meninggalkan Fina. Meninggalkan semua kenangan. Meninggalkan sebuah tulisan di selembar kertas yang berada di dalam saku bajunya. Di ruang guru, semua ribut. Semua berkomentar. Lalu semua menitikkan air mata. Tanpa ada penjelasan apa-apa, tubuh Pak Usman tertidur pulas untuk selamanya di atas kursi dengan kepala tertelungkup di atas meja dan hanya meninggalkan sebuah catatan
KERAGUAN MENGHAMBATKU
Bagiku, hatiku bagaikan seorang musyafir
dalam perjalanan panjang yang kehabisan bekal.
Tenggorokkanku juga sudah merindukan setetes air.
Sementara wajahku sudah penuh dengan luka bahkan mungkin sudah bernanah.
Mana mungkin aku akan memberanikan diri untuk memasuki pintumu
Yang terbuat dari marmer berlapis permata
Bahkan mengetuk pun aku masih ragu.
Sebenarnya aku sangat berharap bisa masuk ke dalam ruang di balik pintu itu.
Dan aku juga sudah dapat membayangkan betapa damainya tinggal di sana.
Aku yakin aku akan betah untuk tetap di situ selamanya.
Namun, ketika kaki ini mulai mendekat,
tiba-tiba keraguan menyeretku untuk bersembunyi di balik semak.
Memang, aku akui, aku pernah bahkan beberapa kali mengetuk pintumu.
Namun, setelah kuketuk pintumu, rasa ragu selalu kembali menyeretku
Dan sembunyi di balik semak.
Maafkan aku.
Bukannya aku kabur atau melarikan diri atau bahkan meninggalkanmu
setelah kau membukakan pintumu lebar-lebar untukku,
tapi semata-mata karena keraguanku yang selalu menghalangiku untuk dapat masuk
dan berdiam diri dalam ruang di balik pintu itu.
Tapi, tidak berani bukan berarti tidak mau, kan?
Maka tunggu sajalah…..
Aku akan berusaha sekuat tenaga mengumpulkan keberanianku untuk menentang keraguan itu.
Aku akan mencoba memasuki pintumu.
Dan aku sangat tidak menginginkan gembokmu akan berkarat karena aku yakin
akulah yang membawa kunci duplikat pintumu.
Tunggulah aku…….
To: CC(FINA)
USM
GEMA YANG TERTINGGAL DI KORIDOR
Berita duka itu menjalar secepat angin di koridor sekolah. Ketika bel masuk berbunyi, kelas XI IPA3 tidak lagi riuh seperti biasanya. Kabar bahwa Pak Usman telah tiada menyergap mereka seperti petir di siang bolong.
Di sudut bangku deretan tengah, Fina terpaku. Wajahnya yang bersih mendadak pias, kehilangan rona. Dunianya seakan runtuh seketika saat Bu Widya, wali kelas mereka, masuk dengan mata sembab dan mengumumkan bahwa guru Bahasa Indonesia mereka telah menghadap Sang Khalik karena serangan jantung mendadak di kursi kerjanya.
Namun, bagi Fina, pukulan terbesar belum berhenti di situ.
Siang harinya, setelah jenazah Pak Usman dibawa ke rumah duka, Bu Widya memanggil Fina ke ruang guru. Dengan tangan bergetar, Bu Widya menyerahkan selembar kertas yang telah agak lecek. Kertas yang ditemukan di dalam saku baju Pak Usman, ditujukan khusus untuknya.
“Ini ditemukan di saku almarhum, Fina. Di bagian bawahnya tertulis namamu,” bisik Bu Widya pelan, mencoba menahan air mata yang kembali merebak.
Fina menerima kertas itu dengan jemari yang gemetar hebat. Begitu tiba di taman dekat sanggar teater—tempat yang tadi pagi sempat dilewati Pak Usman dalam langkah terakhirnya—Fina membuka lipatan kertas itu. Matanya menyusuri baris demi baris tulisan tangan Pak Usman yang rapi namun tegas.
KERAGUAN MENGHAMBATKU…
…karena aku yakin akulah yang membawa kunci duplikat pintumu. Tunggulah aku……
To: CC (FINA)
USM.
Air mata Fina tumpah tak terbendung. Pertahanannya runtuh. Dada gadis pendiam itu sesak oleh rasa sesal yang teramat dalam. Puisi “Pintu” yang ia tulis tempo hari sebenarnya adalah sebuah undangan terselubung, sebuah harapan agar sang guru yang diam-diam ia kagumi itu mau melangkah maju memecah dinding batasan antara guru dan murid. Fina tahu Pak Usman selalu menatapnya berbeda. Fina tahu ada rasa yang dipendam pria itu di balik ketegasannya mengajar.
Namun, ketakutan akan status, gosip, dan label “lelaki normal yang mencintai muridnya” telah membuat Pak Usman bersembunyi di balik semak keraguan. Dan kini, di saat Pak Usman telah memantapkan hati dan meyakini bahwa dialah pemilik kunci duplikat itu, takdir justru merampas kesempatannya untuk mengetuk pintu tersebut.
Fina memeluk kertas itu erat di dadanya. Angin siang Lamongan berembus dingin, menerbangkan beberapa daun kering di taman sekolah.
“Kau tidak kabur, Pak…” bisik Fina di antara isak tangisnya yang tertahan. “Kau hanya terlambat mengetuk. Dan sekarang, pintu ini akan selalu terkunci, bukan karena gemboknya berkarat… tapi karena pemegang kuncinya telah pulang ke keabadian.”
Hari itu, di SMA Negeri 17 Lamongan, sebuah kisah cinta yang belum sempat mekar telah selesai ditulis oleh takdir. Pak Usman pergi meninggalkan keraguannya, dan Fina tinggal bersama sebuah pintu yang tidak akan pernah terbuka lagi untuk siapa pun.
Di ruang guru yang masih diselimuti duka, Bu Widya menatap meja kerja Pak Usman yang kini kosong. Di atasnya hanya tersisa sebuah kalender meja dan tumpukan buku tugas kelas XI IPA3 yang belum sempat dinilai. Sebagai sesama rekan pengajar yang sudah bertahun-tahun mengenal Pak Usman, Bu Widya tahu betul bagaimana dedikasi sahabatnya itu.
Namun, ada satu hal yang baru disadari Bu Widya siang itu. Ia teringat betapa seringnya Pak Usman mengajukan diri untuk mengajar di kelas XI IPA3, atau bagaimana wajah pria bujang itu selalu tampak lebih cerah setiap kali kembali dari koridor kelas sebelah ujung tersebut.
“Jadi, selama ini itu alasanmu selalu betah berlama-lama di sana, Man?” batin Bu Widya dengan dada sesak. Ia memandangi laci meja Pak Usman yang sedikit terbuka, memperlihatkan sebuah pulpen tinta hitam kesayangan almarhum.
Bu Widya menghela napas panjang, menatap ke luar jendela arah taman sekolah. Sebagai seorang guru senior, ia bisa memahami pergolakan batin yang dialami Pak Usman semasa hidupnya. Menaruh hati pada murid sendiri adalah sebuah buah simalakama—sebuah rahasia yang jika diungkapkan akan memicu gunjingan, namun jika dipendam akan menyiksa batin. Pak Usman telah memilih untuk menjaga kehormatan profesinya hingga napas terakhir, membiarkan rasa cintanya membeku bersama raganya di atas meja guru.
Sementara itu, di kelas XI IPA3, suasana mendadak asing. Kursi dan meja yang biasanya riuh oleh candaan kini senyap. Rara, teman sebangku sekaligus sahabat dekat Fina, berulang kali menoleh ke arah Fina yang sejak kembali dari ruang guru hanya menatap kosong ke arah jendela.
Rara tahu ada sesuatu yang tidak biasa. Sebagai sahabat yang sering menjadi tempat bertukar cerita, Rara adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa nama pena ‘CC’ pada puisi-puisi Fina memiliki arti khusus. Rara juga yang malam itu menemani Fina saat gadis itu tersenyum-senyum sendiri menulis puisi “Pintu”.
“Fin…” panggil Rara pelan, menggeser duduknya agar lebih dekat. Ia menyentuh pundak Fina yang terasa dingin. “Kamu enggak apa-apa? Kalau kamu mau nangis, nangis aja, Fin. Jangan dipendam sendiri.”
Fina tidak bergeming. Jarinya meremas pinggiran kertas lembaran dari Pak Usman yang sengaja ia sembunyikan di bawah buku catatannya agar tidak terlihat oleh anak-anak lain.
Rara mengintip sekilas, melihat robekan kertas bergaris dengan inisial ‘USM’ di bagian bawahnya. Seketika, potongan-potongan teka-teki di kepala Rara menyatu. Ia teringat betapa Pak Usman selalu memberikan perhatian lebih saat Fina membacakan puisi di depan kelas. Ia teringat bagaimana cara Pak Usman menatap Fina—bukan tatapan seorang guru yang bangga pada muridnya yang berprestasi, melainkan tatapan teduh seorang pria yang mengagumi seorang wanita dari kejauhan.
“Ya Tuhan, Fin… Jadi puisi ‘Pintu’ itu untuk Pak Usman?” bisik Rara tertahan, matanya membelalak tidak percaya sekaligus disergap rasa haru yang luar biasa.
Rara membekap mulutnya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa di balik dinding kelas XI IPA3 yang kaku ini, telah terjadi dialog hati yang begitu dalam antara guru mereka dan sahabatnya. Sebuah dialog yang sayangnya, baru saling menemukan jawabannya saat sang pengirim pesan telah tiada.
Melihat air mata Fina yang mulai menetes satu demi satu tanpa suara, Rara langsung memeluk sahabatnya itu erat-erat. Di pojok kelas yang sepi itu, di bawah bayang-bayang papan tulis yang masih menyisakan tulisan kapur materi minggu lalu, Rara berbisik, “Dia udah tahu jawabannya, Fin. Dia pergi dengan tahu kalau dia adalah kuncinya.”
BAIT TERAKHIR DI TEPI LIANG LAHAT
Gerimis tipis mengguyur bumi Lamongan sore itu, seolah ikut mengantarkan kepergian lelaki yang selama ini hidup dalam sunyi profesi dan cintanya. Pemakaman umum sudah dipadati oleh pelayat. Rombongan guru dengan seragam dinas yang basah, serta perwakilan siswa SMA Negeri 17 Lamongan berdiri melingkari liang lahat yang masih basah.
Di antara kerumunan itu, Fina berdiri bersisian dengan Rara dan Bu Widya. Wajahnya tertutup payung hitam, namun matanya yang sembab tidak bisa menyembunyikan badai rasa bersalah dan kehilangan yang berkecamuk di dadanya.
Perlahan, jenazah Pak Usman diturunkan. Suara lantunan azan yang mengalun membelah rintik hujan membuat dada Fina semakin sesak. Lelaki normal yang membawa kunci hatinya itu kini benar-benar telah melangkah masuk ke dalam keabadian. Dinding pembatas antara guru dan murid yang selama ini ditakutkan Pak Usman, kini telah digantikan oleh gundukan tanah merah.
Setelah prosesi pemakaman selesai dan para pelayat satu per satu mulai meninggalkan area pemakaman, Fina masih bergeming.
“Fin, ayo pulang. Sudah makin sore,” ajak Rara pelan sembari menyentuh lengan sahabatnya.
Fina menggeleng lemah. “Sebentar lagi, Ra. Aku mau pamit.”
Bu Widya yang memahami situasi itu menepuk bahu Rara pelan, memberi isyarat agar mereka memberikan waktu bagi Fina. Keduanya melangkah menjauh, menyisakan Fina sendirian di depan nisan kayu yang masih baru bertuliskan nama Usman.
Fina berlutut di atas tanah yang basah. Diusapnya nisan kayu itu dengan jemari yang bergetar. Dari balik saku bajunya, ia mengeluarkan selembar kertas bergaris—surat balasan dari Pak Usman—yang kini telah ia lipat rapi membentuk sebuah burung bangau kertas. Di dalam lipatan itu, Fina telah menyelipkan satu baris kalimat pendek sebagai jawaban atas keraguan Pak Usman.
“Kau tidak perlu ragu lagi, Pak. Pintuku sudah terbuka sejak pertama kali kau berniat mengetuknya…”
Dengan air mata yang mengalir bebas bersatu dengan titik gerimis, Fina meletakkan burung kertas itu di atas gundukan tanah merah, tepat di bawah nisan Pak Usman. Ia lalu menaburkan bunga mawar dan melati yang dibawanya, membiarkan wewangian itu mengiringi peristirahatan terakhir sang guru.
Fina bangkit berdiri, menarik napas dalam-dalam. Beban sesak di dadanya perlahan terangkat bersama angin sore yang berembus pelan. Pak Usman mungkin tidak akan pernah bisa mendiami ruang di balik pintu hatinya di dunia ini. Namun, Fina tahu, di dalam hatinya yang paling dalam, gembok itu tidak akan pernah berkarat. Kunci duplikat itu telah dibawa pergi oleh Pak Usman, mengunci nama lelaki itu selamanya di sana.
Fina membalikkan badan, melangkah tegap menyusul Rara dan Bu Widya yang menunggunya di gerbang pemakaman. Ia tidak lagi menoleh ke belakang. Kisah cinta yang terlambat mekar itu kini telah menjelma menjadi sepotong sajak abadi yang terkubur bersama pemiliknya.




2 Komentar
Kereeen
Makasih