
Oleh Sunaryo, S.Pd.
Semua berawal dari diam.
Diam yang bisu.
Sebisu jam dinding yang mengutuki waktu.
Diam…
Yaa… Hanya diam.
Sediam kita yang tak mampu menakar kata,
meski sekadar untuk mengatakan segelintir abjad nan dahsyat,
tereja : C-I-N-T-A.
Cinta kita berawal dari diam.
Ketika aku dan engkau sama-sama diam tanpa sapa.
Tepat saat pertama kali mata beradu mata.
Hanya diam yang telah mengutarakan semua.
Diam yang indah.
Diam yang memesona.
Karna diam itu emas.
Diam itu emas yang digali dari tambang hati,
Menghasilkan emas murni,
Semurni cintaku padamu.
Ketika kita telah jatuh dalam kubangan bernama cinta.
Segalanya akan berubah jadi cinta.
Daun berguguran adalah cinta,
Pelangi senja di seberang telaga adalah cinta,
Saat makan di piringku ada nasi bergambar cinta
Bahkan gelasku pun berisi air cinta.
Begitulah pengaruh cinta.
Indah.
Dan hakikat keindahan atas cinta adalah DIAM.
Kutatap bola mata cinta dalam diam.
Kupegang jemari tangan cinta dengan diam.
Kubelai mesra rambut panjang penuh cinta masih dalam diam.
Kunikmati keindahan yang tercipta dalam diam.
Diam tanpa suara.
Diam tak butuh kata.
Karna dalam cinta memang hanya hati yang bicara.
Karna cinta pula aku bisa menggubah puisi
meski tak sepuitis puisi Rendra.
Cinta memang berawal dari diam
Cinta tercipta kala semuanya berpusat pada dua pasang mata yang beradu
Seketika itu dunia menjadi diam
Larut hening bersamanya.
Orang-orang menjadi pendiam.
Tak lagi mengusik.
Semua orang tenggelam dalam kediaman cinta.
Cinta yang diam.
Yaa… semua diam
Karena cinta bukanlah sesuatu yang bisa dilihat.
Cinta itu abstrak tapi nyata.
Bukan untuk dilihat dengan mata tapi dirasakan dengan hati
Hati…..
Segenggam benda yang teronggok di dalam tubuh,
Yang karenanya timbullah rasa cinta
Benda itu kini kupegang di tanganku.
Itu tandanya aku sudah tak punya hati.
Tadi siang, dia yang kucintai telah mencongkel hatiku.
Katanya ia terlalu sayang padaku
hingga tak ingin hatiku tersakiti.
Ia tak ingin kami saling terpaut karena hati.
Ia ingin mencintai tanpa hati.
Lalu aku bisa apa?
Aku tak bisa menolak semua keinginannya.
Termasuk jika itu berarti kehilangan hati.
Dalam hati, ada hal penting yang dinamai perasaan.
Tapi apa peduliku?
Aku tak lagi butuh itu.
Yang kubutuhkan hanya cinta.
Dan yang kutahu, cinta tak selamanya harus memakai hati
Dia, ya, dia, yang mengajariku untuk hal ini.
Dia, yang kubiarkan mencongkel hatiku
Hingga aku tak memilikinya lagi.



